Konsep islam dalam memilih pemimpin
Untuk menjalankan tatanan dalam kehidupan secara kodrat di muka bumi ini di butuhkan seorang pemimpin. Karena pemimpin yang baik akan menghasilkan kebijakan - kebijakan yang sangat baik. Bahkan saking pentingnya sorang pemimpin
Saidina Ali pernah berkata, “Lebih baik dipimpin oleh orang yang zalim daripada negara tidak ada pemimpin.” Ini menunjukkan bahwa keberadaan pemimpin dalam negara itu mutlak diperlukan. Dalam sebuah pengajian bersama Tgk Marhaban Habibi Bakongan (Waled Bakongan), beliau menjelaskan bahwa memilih pemimpin hukumnya wajib dan setiap insan akan berdosa jika tidak ada pemimpin walaupun cuma sehari. Melihat kenyataan yang seperti ini tentulah tidak ada alasan bagi kita untuk menolak keberadaan seorang pemimpin.
Di era tahun politik ini tahun 2019 bisa jadi akan menjadi tahun yang bersejarah dan pastinya akan selalu di ingat oleh banyak lapisan masyarakat pada umumnya,mengapa seperti itu ,karena di tahun 2109 banyak orang-orang yang berlomba-lomba ingin menduduki kursi nomer satu di wilayah nya ,entah itu kepala desa,camat,bupati,gubenur,legeslatif bahkan presiden pun pemilihannnya di tahun ini.
Segala upaya dilakukan untuk memenangkan suara dan menjadi nomer 1. Tak heran kalau kita menyebut tahun 2019 adalah tahun sensitif.
Bicara tentang sosok pemimpin islam
Sudah memberikan sebuah arahan jelas dalam memilih seorang pemimpin
- Pedoman dalam Memilih Pemimpin
- Prinsip-prinsip dasar dalam memilih pemimpin.
Walaupun dalam Islam tidak dijelaskan bagaimana sistem atau tata cara memilih pemimpin, apakah model demokrasi melalui pemilu seperti di Indonesia atau yang lainnya, namun prinsip-prinsip dasar siapa yang boleh diangkat atau dipilih sebagai pemimpin banyak ditemui dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi, antara lain:
- Tidak mengambil orang kafir atau orang yang tidak beriman sebagai pemimpin bagi orang-orang muslim karena bagaimanapun akan mempengaruhi kualitas keberagamaan rakyat yang dipimpinya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Surat An-Nisaa: 144 :
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? (QS. An-Nisa: 144).
- Tidak mengangkat pemimpin dari orang-orang yang mempermainkan agama Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 57 :
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Maidah: 57).
- Jangan memilih pemimpin berdasarkan kekerabatan ataupun pertemanan dengan mengorbankan faktor agama dan keimanan. Allah berfirman:
Artinya:
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. At-Taubah: 33)
Dalam hal ini Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin”. (HR. Al Hakim)
Umar bin Khatab berkata:
”Siapa yang menempatkan seseorang pada jabatan tertentu, karena rasa cinta atau karena hubungan kekerabatan, dia melakukannya hanya atas pertim-bangan itu, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin”.
- Pemimpin harus mempunyai keahlian di bidangnya. Pemberian tugas atau wewenang kepada yang tidak berkompeten akan mengakibatkan rusaknya pekerjaan bahkan organisasi yang menaunginya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan juga perhatikan hadits di bawah ini:
Artinya:
“Dari Abu Dzar dia berkata, saya bertanya (kepada Rasulullah SAW): Wahai Rasulullah kenapa engkau tidak memberikan suatu jabatan? Rasulullah menjawab sambil memukulkan tangan-nya di pahaku: Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Sesungguhnya jabatan itu amanat. Di hari kiamat jabatan itu bisa mendatangkan kesedihan dan penye-salan, kecuali bagi orang yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban atas dirinya”. (HR. Bukhari).
- Pemimpin harus bisa diterima (accep-table), mencintai dan dicintai umatnya, mendoakan dan didoakan oleh umatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.
“Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR. Muslim)
- Pemimpin harus mengutamakan, mem-bela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksa-nakan syari’at, berjuang menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah, sebagaimana Firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Surat An-Nisa’: 58 :
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di-antara manusia supaya kamu menetap-kan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 58)
Dan juga Allah berfirman dalam Surat An-Nahl: 90:
Artinya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl: 90)
- Pilih pemimpin yang aspiratif, mau memperhatikan keluhan masyarakat, bersikap lemah lembut dan gemar bermusyawarah. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 159 :
Artinya:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka men-jauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah am-pun bagi mereka, dan bermusyawarah-lah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membu-latkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawak-kal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)
- Pemimpin harus memiliki bayangan sifat-sifat Allah SWT yang terkumpul dalam Asmaul Husna dan sifat-sifat wajib Rasul yang 4 yaitu sidiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), fathanah (cerdas) dan tabligh (bisa menyam-paikan gagasan dan mampu membawa umatnya ke arah perbaikan dan kemajuan).
- Mampu menjadi teladan untuk umat, sebagaimana Rasulullah yang menjadi figur teladan bagi umatnya juga. Allah SWT berfirman:
Artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang meng-harap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) pada Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)
- Pemimpin berat resikonya
Menjadi pemimpin, walaupun memiliki kedudukan yang mulia, namun berat resikonya. Maka janganlah meminta jabatan, tetapi kalau dipilih terimalah. Perhatikan hadits berikut ini:
Artinya:
Dari Abdurahman bin Samrah, dia berkata: Nabi SAW bersabda: Wahai Abdurrahman, janganlah kamu minta jabatan, sesung-guhnya jika kamu dapat jabatan karena minta, maka akan menanggung banyak beban, tetapi kalau kamu mendapat ja-batan tanpa minta-minta maka kamu akan memperoleh pertolongan. (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam suatu hadits:
Artinya:
“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Sungguh kamu sekalian sangat berhasrat menjadi pejabat, padahal itu akan menjadi penyesalan di hari qiyamat”.
(HR. Bukhari)
- Jika tidak ada kandidat yang memenuhi standar
Bagaimana jika tidak ada kandidat yang memenuhi standar yang sudah ditetapkan? Atau bahkan bagaimana bila ada kekhawatiran tugas jabatan itu akan jatuh pada orang yang tidak amanah dan akan lebih banyak membawa madlorot bagi umat Islam? Dalam kasus seperti ini, tentu tidak ada salahnya bila yang memiliki keahlian berusaha untuk meraihnya. Dengan catatan: (1) harus niat ikhlas semata-mata mencari ridlo Allah SWT, (2) amanah dan akan tetap istiqomah, (3) memiliki keunggulan dari pada kom-petitor lainnya dan (4) ada kekhawatiran terjadinya bencana jika dibiarkan jabatan itu diserahkan kepada orang lain. Simak kisah Nabi Yusuf yang meminta untuk diangkat sebagai bendahara negeri Mesir.
Allah berfirman: “(Yusuf berkata): Jadikan-lah aku bendahara negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanat) dan berpenge-tahuan”. (QS. Yusuf: 55)
Untuk itu sebagai generasi emas indonesia sudah saatnya lah kita menjadi pemilih yang cerdas,pastikan kita ambil bagian didalam pilpres 2109, kalo diperlukan kita sholat mohon petunjuk dalam memilih pemimpin yang bisa menjalanlan amanah.
Jangan kau jual suaramu ,karena itu menentukan indonesia kedepan nya.
Daftar Pustaka
https://www.google.com/amp/s/mangunbudiyanto.wordpress.com/2016/09/10/pedoman-memilih-pemimpin-dalam-islam/amp/
- Agus Supatera, Petunjuk Al-Qur’an dalam Memilih Pemimpin, riau-kemenag.go.id, diunduh tanggal 10 Oktober 2015
- Al-awardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah, Hukum-Hukum Penyelenggaraan Negara dalam Syare’at Islam, Farid Bahri. Bekasi : Darul Falah, 2012.
- Fakih, Aunur Rohim, dkk, Kepemimpinan Islam. Yogyakarta : UII Press, 2005
- Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam.Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1993.
- Mahadi Zaenudin, Abd Mustakim, Studi Kepemimpinan Islam. Yogyakarta : Al-Muhsin Press, 2002.
- Syihab, M Quraish, Membumikan Al-Qur’an.Bandung : Mizan, 2001.
- _______, Tafsir Al-Misbah. Jakarta : Lentera Hati, 2009.
- Tim Dep. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta : Dep. Agama RI, 1998.
- ______, Al-Qur’an dan Tafsirnya.Yogyakarta : UII Press, 2004.